Minggu, 20 Januari 2019
Hukum

Napid Rutan Cabang Gusit P.Tello di Telukdalam Meninggal, Keluarga Mohon Perhatian Menkumham RI

Foto: Korban meninggal di Rutan (Antonius Maduwu)
Kepala Rutan Cabang Gusit di Nias Selatan Eben Depari (Posisi kiri), pada saat dikonfirmasi.
Lampiran surat Klarifikasi dari Ka. Cabang Rumah Tahanan Negara Gunungsitoli di Pulau Tello tertanggal 25 September 2018
4.56Kviews

Telukdalam, GlobalniasIndocom

– Pihak keluarga dan Kepala Desa mempertanyakan motif meninggalnya Antonius Maduwu di Rumah Tahanan Cabang Gunungsitoli kelas II B Pulau Tello yang berlokasi di desa Nanowa kecamatan Telukdalam, kabupaten Nias Selatan.

Seputar kronologis tentang almarhum, pada mulanya almarhum Antonius Maduwu (16) merupakan salah seorang Tahanan (Rutan) Gunungsitoli untuk seterusnya dipindahkan ke Rutan Cabang Gunungsitoli Pulau Tello yang berlokasi di desa Nanowa, kecamatan Telukdalam.

Antonius Maduwu akhirnya meninggal dunia pada hari Selasa tanggal 11 September 2018 dengan status masih tahanan Rutan Cabang Gunungsitoli Pulau Tello yang berlokasi di desa Nanowa kecamatan Telukdalam.
Atas peristiwa tersebut para keluarga besar korban di desa Hilisataro Raya kecamatan Toma dan termasuk Kepala Desanya merasa heran dan kecewa.

Inilah hasil penesuran Media Globalnias Indocom :

Pihak kelurga korban pada tanggal 18 Sepetember 2018 bertempat di desa Hilisataro Raya, kecamatan Toma. Abang kandung korban, Famasugi Maduwu memaparkan, kematian adek saya tersebut diduga tidak wajar karena dibagian tubuh korban ada bekas memar dan lembam hingga mengeluarkan darah dari dalam hidung.

Dilanjutkannya, yang paling aneh menurut saya yaitu, kalau memang almarhum adek saya itu sakit mengapa pihak rutan tidak pernah memberitahukannya kepada kami ketika almarhum sakit di Rutan, sementara tempat tinggal kami tidak jauh dari lokasi Rutan dan setidaknya kami dapat dihubungi dengan handphone seluler.

Abang kandung korban bersama kelurga lainnya menjelaskan, peristiwa ini oleh pihak Rutan/Lapas melalui via hand phone memberitahukan kepada Famasugi Maduwu (abang kandung korban) setelah korban berada di Puskesmas Telukdalam. Saya dihubungi pihak Lapas berkisar pukul 12.00 Wib, hari Selasa tanggal 11 September 2018, ujar Famasugi. Setelah Famasugi abang sikorban bersama sejumlah pihak keluarga lainnya tiba di Puskesmas Telukdalam, Jalan Kartini -Telukdalam, ternyata sikorban Antonius Maduwu bukan lagi sakit melainkan dalam keadaan telah meninggal dunia dengan kedua tangannya diikat dengan kain dan posisi kedua tangannya itu diatas dadanya, ujar para keluarga.

Menurut Famasugi Maduwu (abang korban), berkisar dua minggu sebelum korban meninggal dunia, Famasugi Maduwu bersama orang tuanya (S. Maduwu) telah mejenguk Antonius Maduwu di Rutan desa Nanowa, kecamatan Telukdalam. Pada saat itu, sikorban tidak ada keluhan bahwa dia sakit dan kamipun melihat kondisi tubuhnya pada saat itu dalam keadaan sehat.
Famasugi Maduwu ditambahkannya, atas kejadian itu pihak Rutan hanya bertanggung jawab hingga jenazah sikorban diantarkan ke tempat tinggal orang tuanya di kebun Wallo – desa Nanowa, kecamatan Telukdalam. Setelah jenazah sampai di tempat tinggal orang tuanya di kebun Wallo – desa Nanowa ,lalu tidak lama kemudian pihak Rutan hanya menyodorkan surat untuk ditandatangani pihak keluarga, dan surat itu ditandatangani langsung oleh abang kandung korban (Famasugi Maduwu) yang nota bene dia buta huruf, ujarnya.

Terkait dugaan kasus tersebut, “pihak keluarga korban mengharapkan perhatian Menkumham RI agar kiranya motif yang sebenarnya dapat terungkap, sehingga kami tidak menduga – nduga”, ujar mereka.

Konfirmasi kepada Kepala Desa Hilisataro Raya bertempat di kantornya, Selasa (18 September 2018), Hekinus Maduwu, S.IP diisebutkannya, pada saat saya mempertanyakan hal ini melalui via handphone seluler, pihak Rutan/Lapas mengatakan bahwa penyebab kematian korban Antonius Maduwu akibat “penyakit mag”.

Kepala Desa Hilisataro Raya, Hekinus Maduwu, S.IP mengatakan, saya sangat kecewa dan mengutuk sikap dan langkah yang dilakukan pihak Rutan/Lapas tersebut, seharusnya sebelum korban meninggal dunia wajib diberihukan kepada saya sebagai Kepala Desa.

Atas peristiwa ini, Kepala Desa Hilisataro Raya mengharapkan adanya kejelasan apa yang menjadi penyebab kematian Antonius Maduwu yang sebenarnya, beliau mengharapkan pihak berwenang kiranya menelusuri peristiwa ini untuk menghindari praduga tak bersalah dari masyarakat dan khususnya pihak keluarga si korban, pungkasnya.

Pihak Rutan/Lapas pada saat dikonfirmasi, Rabu (19 September 2018), di Rutan Cabang Gunungsitoli – Pulau Tello berlokasi di desa Nanowa, kecamatan Teluk Dalam. Kepala Rutan (Eben Depari) pada saat itu terlihat bagaikan kebingunan dan tidak memberi tanggapan, sehingga beliau menyuruh salah seorang staf untuk memanggilkan 2 (dua) orang Nara Pidana dari dalam Rutan, dan para Narapidana itu menyebutkan, penyebab meninggalnya Antonius Maduwu akibat “penyakit sesak”.

Untuk mengembangkan informasi ini, selanjutnya akan dikonfirmasi pihak lainnya.
(Santap Harefa)

* KLARIFIKASI DARI KEPALA CABANG RUMAH TAHANAN NEGARA GUNUNG SITOLI DI PULAU TELLO (RUTAN KELAS B NIAS SELATAN) OLEH EBEN HAEZER DEPARI, MELALUI SURATNYA TERTANGGAL 25 SEPTEMBER 2018, PERIHAL PENGAJUAN HAK JAWAB DAN KOREKSI TERHADAP PEMBERITAAN

1. Bahwa status Almarhum Antonius Maduwu alias Anton Narapidana Bukan Tahanan;
2. Bahwa dalam informasi perihal sakit almarhum Antonius Maduwu alias Anton dapat dikonfirmasi dengan dokter yang memeriksa di UPTD Puskesmas perawatam plus Telukdalam Nias Selatan
3. Bahwa pada hari Selasa tanggal 11 September Almarhum Antonius Maduwu alias Anton sebelum dirujuk di UPTD Puskesmas perawatan plus Telukdalam Nias Selatan telah mendapatkan pelayanan kesehatan dari pegawai kesehatan yang ada di Cabang Rutan Gunungsitoli di pulau Tello
4. Bahwa pada saat dirujuk di UPTD puskesmas perawatan plus Telukdalam almarhum Antonius Maduwu alias Anton tidak memiliki bekas memar dan lebam dibagian tubuhnya.
5. Bahwa pada hari yang sama tanggal 11 September 2018 pada pukul 12.35 Wib pihak Cabang Rutan Gunungsitoli di Tello telah menghubungi keluarga di nomor 081265134375 yang diangkat oleh istri Famasugi Maduwu (kakak ipar Antonius Maduwu) dengan pemberitahuan Antonius Maduwu alias Anton telah dirujuk berobat di UPTD Puskesmas perawatan plus Telukdalam Nias Selatan agar pihak keluarga dapat mengetahui dan mengunjungi almarhum, dan keluarga yang dihubungi baru tiba di UPTD puskesmas perawatan plus Telukdalam Nias selatan pukul 04:50 Wib setelah almarhum Antonius Maduwu dinyatakan oleh Dokter meninggal dunia.

* Menelusuri kebenaran “SURAT KETERANGAN KEMATIAN “ yang diserahkan oleh Kepala Cabang Rumah Tahanan Negara Gunungsitoli di Pulau Tello (Rutan Kelas II B Nias Selatan) melalui suratnya di alamat Redaksi media Globalnias Indocom tertanggal 25 September 2018, Nomor W2.E34.HM.02.02.01.411 terkait meninggalnya salah seorang nara pidana atas nama ANTONIUS MADUWU alias Anton (Tayangan foto berita).

Surat Keterangan Kematian yang sudah dicap dan ditandatangani oleh dr. Invokavit T. Sarumaha sebagai Dokter UPTD Puskesmas Perawatan Plus Telukdalam suratnya tertanggal 12 September 2018 dengan nomor 441/231/yankes/IX/2018.

Uraian Isi Surat Keterangan Kematian itu yakni menerangkan bahwa : Antonius Maduwu alias Anton, Jenis kelamin Laki – Laki, Umur 26 Tahun, Agama Katolik , Alamat Desa Bawonifaoso – Kecamatan Telukdalam, Kabupaten Nias Selatan, dibenarkan telah meninggal dunia pada hari Selasa tanggal 11 September 2018, Pukul 13.50 Wib di UPTD Puskesmas Perawatan Plus Telukdalam, Kecamatan Telukdalam karena “ MENGIDAP SUATU PENYAKIT”. Yang menjadi tanda tanya misterius yakni “JENIS PENYAKIT TIDAK IKUT DIURAIKAN DIDALAM SURAT KETERANGAN KEMATIAN TERSEBUT” (lihat bukti surat keterangan kematian pada tayangan foto berita).

Sesuai hasil konfirmasi pada tanggal 27 September 2018 bertempat di Puskesmas Perawatan Plus Telukdalam, dokter Invokavit Sarumaha , beliau enggan memberi jawaban fakta yang jelas “‘TERKAIT APA SAJA JENIS PENYAKIT YANG DIALAMI NAPID almarhum ANTONIUS MADUWU alias ANTON SEHINGGA BERAKIBAT MENINGGAL DUNIA”, dan dipaparkannya kan saya masih punya atasan pak yaitu Kepala Puskesmas (Kapus). akhinya disarankannya untuk terlebih dahulu konfirmasi ibu Kepala Puskesmas sebagai atasannya.

Wartawan dengan hati mulia , selanjutnya menjumpai dan konfirmasi terhadap Kepala Puskesmas Perawatan Plus Telukdalam. Pada konfirmasi di salah satu ruang tunggu itu, Kepala Puskesmas Perawatan Plus Teluk dalam, K. Dachi mendahului meminta SPT wartawan Media Globalnias Indocom, seraya disebutkannya seperti kami wajib ada surat tugas atau SPT tersebut. Menanggapi pertanyaan iKapus, Wartawan langsung mengklarifikasi melalui KTA PRESS KARD yang sudah kian tergantung diluar kantong baju ditunjukan kepada Kepala UPTD Puskesmas Perawatan Plus Kecamatan Telukdalam. Lalu, Kapus Puskesmas Perawan Plus Telukdalam hanya mengatakan mengenai hal tersebut masih ada Pimpinan saya, sembari disebutkannya kami ada banyak sif tidak mungkin saya yang jaga terus pak, ujarnya.

Menjelang beberapa menit kemudian, dokter Invokavit Sarumaha menyusul mendatangi Kapus K. Dakhi bersama wartawan di tempat yang sama. Di tempat itu (tayangan foto berita), menjawab pertanyaan wartawan, dokter Invokavit Sarumaha membenarkan bahwa beliau yang menangani almarhum Antonius Maduwu pada saat itu, dan disebutkannya namun mengenai hal itu kan masih ada pimpinan saya yaitu Kapus, kalau diizinkannya saya kasih, itu “rahasia” karena menyangkut pekerjaan kami, tuturnya.
(Santap Harefa)

Lewat ke baris perkakas